Semakin Minimny Penutur Bahasa Lampung

SEMAKIN MINIMNYA PENUTUR BAHASA LAMPUNG DI KOTA BANDAR LAMPUNG

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

  1. 1.    1 Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara multikultural, yaitu negara yang memiliki berbagai keragaman  suku, agama, ras, budaya dan bahasa. Seiring dengan perkembangan zaman dan era globalisasi, keanekaragaman tersebut kini terancam. Terutama keanekaragaman bahasa daerah yang semakin ditinggalkan dan nyaris punah.

Lampung adalah salah satu provinsi di Indonesia yang letaknya sangat strategis. Letaknya yang berada di ujung Selatan pulau Sumatera, menjadikan Lampung sebagai satu-satunya pintu gerbang bagi mereka yang ingin masuk ke Pulau Sumatera. Itulah salah satu faktor yang membuat Lampung ramai didatangi oleh  para pendatang dari berbagai macam suku. Majemuknya komposisi masyarakat yang ada di Lampung tersebut, bukannya tidak berdampak bagi kelangsungan masyarakat asli Lampung itu sendiri. Terutama di Kota Bandar Lampung, salah satu dampaknya adalah semakin memudarnya penggunaan bahasa asli Lampung di kota ini.

Pudarnya jumlah penutur Bahasa Lampung di Kota bandar Lampung ini dapat menyebabkan punahnya bahasa Lampung sebagai jati diri dan ciri khas daerah Lampung di kemudian hari. Hal itulah yang membuat penulis merasa tertarik membuat makalah dengan judul “Semakin Minimnya Penutur Bahasa Lampung di Kota Bandar Lampung”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan apa yang dikemukakan dalam latar belakang maka penulis menarik suatu rumusan masalah sebagai berikut yaitu :

  1. Apa sajakah faktor-faktor yang menyebabkan bahasa Lampung semakin jarang digunakan di Kota Bandar Lampung?
  2. Apa yang harus dilakukan pemerintah Kota Bandar Lampung dalam rangka mengatasi minimnya penutur Bahasa Lampung di daerahnya?

 

1.3 Pembatasan Masalah

Peran Pemerintah Kota Bandar Lampung dalam rangka mengatasi minimnya penutur bahasa Lampung di Kota Bandar Lampung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

 

LANDASAN TEORI

 

2.1          Pengertian Bahasa

Menurut Wibowo (2001:3), bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran.

 

2.2          Bahasa Daerah

Bahasa lokal (daerah) adalah bahasa yang digunakan sebagai sarana komunikasi dan interaksi antaranggota masyarakat dari suku-suku atau kelompok-kelompok etnis di daerah-daerah dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu, bahasa lokal merupakan salah satu sarana pembentuk kekayaan budaya bangsa yang plural (majemuk) di samping kekayaan keragaman cara berpikir, keragaman adat, dan keragaman sistem hukum adat (Asshiddiqie, 2007).

 

2.3          Kota Bandar Lampung

Kota Bandar Lampung merupakan sebuah kota, sekaligus ibu kota provinsi Lampung, Indonesia. Secara geografis, kota ini menjadi pintu gerbang utama pulau Sumatera, tepatnya kurang lebih 165 km sebelah barat laut Jakarta, memiliki andil penting dalam jalur transportasi darat dan aktivitas pendistribusian logistik dari Jawa menuju Sumatera maupun sebaliknya.

Kota Bandar Lampung memiliki luas wilayah 197,22 km² yang terbagi ke dalam 20 Kecamatan dan 126 Kelurahan dengan populasi penduduk 879.651 jiwa (berdasarkan sensus 2010), kepadatan penduduk sekitar 8.142 jiwa/km² dan diproyeksikan pertumbuhan penduduk mencapai 1,8 juta jiwa pada tahun 2030. Saat ini kota Bandar Lampung merupakan pusat pendidikan dan kebudayaan serta perekonomian di provinsi Lampung.

 

 

 

BAB III

 

PEMBAHASAN

 

3.1 Faktor-Faktor Penyebab Semakin Jarangnya Penutur Bahasa Lampung di Kota Bandar Lampung

          Lampung adalah provinsi yang memiliki banyak potensi, terutama di bidang pertanian. Hal itulah yang membuat Lampung menjadi salah satu tujuan transmigrasi sejak zaman penjajahan Belanda. Transmigrasi yang dilakukan berkali-kali dari tahun 1905 sampai era orde baru berakibat pada berubahnya komposisi penduduk di Provinsi Lampung. Di Kota Bandar Lampung, banyaknya pendatang dari berbagai daerah semakin mengubah wajah Kota Bandar Lampung menjadi kota yang heterogen dan multikultural.

          Akulturasi kebudayaan dari berbagai daerah pun tidak dapat dihindari. Akibatnya, bahasa Lampung yang merupakan bahasa asli  tidak dapat menjadi tuan rumah di Kota Bandar Lampung. Sedangkan, di daerah-daerah terpencil di Provinsi Lampung bahasa Lampung tetap menjadi bahasa utama.

Menurut penulis, faktor-faktor yang menyebabkan jarangnya pemakai Bahasa Lampung di Kota Bandar Lampung antara lain:

 

  1. 1.  Sedikitnya jumlah penduduk asli Lampung sebagai  penutur Bahasa Lampung.

Sedikitnya jumlah penduduk asli Lampung di Kota Bandar Lampung, membuat penduduk asli Lampung baik dari luar Bandar Lampung maupun dari Bandar Lampung sendiri terkesan malu untuk berbicara menggunakan bahasa Lampung di dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Lampung kini kian terpinggirkan karena penduduk asli Lampung menjadi minoritas di tanahnya sendiri.

.

  1. 2.  Penduduk asli Lampung lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia daripada melestarikan bahasa Lampung di dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebagai daerah yang menjadi  tujuan transmigrasi, Bandar Lampung menjadi daerah yang ramai bagi para pendatang. Penduduk asli Lampung, hanya menggunakan bahasa Lampung di dalam lingkungan rumah saja. Sedangkan di luar rumah, penduduk asli Lampung menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana berkomunikasinya.

 

  1. 3.   Globalisasi yang tidak dapat dihindari karena arus informasi yang semakin tak terbatas.

Di era yang modern ini, kita tidak bisa menolak arus globalisasi. Arus globalisasi yang terjadi di seluruh dunia, termasuk di negara Indonesia semakin hari semakin tidak terbendung. Globalisasi dapat berdampak pada kebudayaan daerah yang semakin luntur dipengaruhi oleh budaya asing. Salah satu bentuk kebudayaan yang kian tergerus oleh arus globalisasi adalah bahasa.

Di dalam pergaulan, baik di dunia nyata maupun di media sosial, penggunaan bahasa di masyarakat kini sudah tidak lagi mencerminkan jati diri suku bangsa. Baik bahasa daerah maupun bahasa Indonesia kini sudah terpengaruh oleh penggunaan bahasa asing dan bahasa slang atau bahasa gaul. Sehingga posisi bahasa daerah, yakni bahasa Lampung saat ini semakin terpojok.

 

3.2 Peran Pemerintah Kota Bandar Lampung dalam Rangka Mengatasi Semakin Minimnya Penutur Bahasa Lampung di Kota Bandar Lampung

Minimnya penutur Bahasa Lampung di Kota Bandar Lampung bukanlah semata-mata disebabkan oleh kurangnya kepedulian pemerintah Kota Bandar Lampung terhadap bahasa asli daerah. Sebagai pembuat kebijakan, pemerintah Kota Bandar Lampung telah melakukan berbagai resolusi. Salah satu kebijakan yang telah dilakukan pemerintah dalam mengatasi ancaman pudarnya pengguna Bahasa Lampung adalah dengan memasukan bahasa Lampung ke dalam kurikulum sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah. Selain itu, kebijakan yang dapat dilakukan Pemerintah Kota Bandar Lampung adalah dengan cara menjadikan bahasa Lampung sebagai bahasa sehari-hari di samping bahasa Indonesia dalam situasi resmi maupun tidak resmi di seluruh pendidikan dasar dan menengah.

BAB IV

 

KESIMPULAN

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s