KOIN ( KOMUNITAS INTEGRITAS ) PROMOSIKAN UNILA DAN MENGKAMPANYEKAN INTEGRITAS MELALUI INTEGRITY SCHOOL DAN INTEGRITY TRY OUT.

 

UKM Komunitas Integritas Yang baru berdiri 4 bulan ibarat baru se umur jagung  telah aktif dalam menanamkan nilai-nilai integritas di tanah Lampung  Khususnya dan Indonesia umumnya . Koin sebagai unit kegiatan mahasiswa termuda di Universitas Lampung yang fokus terhadap pergerakan anti korupsi dan penanaman nilai – nilai Integritas

 Koin melalui Integrity School mengajak siswa untuk sama – sama belajar menjadi pribadi yang bertegritas dengan  kegiatan pendidikan dan Pengajaran nilai – nilai integritas melalui penanaman nilai moral kepada seluruh peserta didik, integrity school ini sendiri bertujuan untuk memberikan penyadaran bagi peserta didik tentang  betapa pentingnya integritas dan nilai – nilai anti korupsi.

Integrity Try out adalah Try Out simulasi SBMPTN terbesar se provinsi Lampung yang dilaksanakan tanggal 24 November 2013 . Try Out dengan jumlah 4700 peserta yang berasal dari seluruh wilayah Lampung, merupakan upaya Komunitas Integritas UNILA untuk menggagas kesadaran peserta didik untuk menjadi pribadi yang lebih jujur guna terbentuknya karakter pemuda yang berintegritas.

Simulasi SBMPTN sendiri bertujuan sebagi wahana latihan bagi peserta didik dalam rangka mempersiapkan diri untuk menghadapi tes masuk perguruan tinggi negeri tujuan peserta didik. Selain untuk wahana latihan tes masuk perguruan tinggi negeri kegiatan simulasi SBMPTN ini juga menjadi ajang melatih kejujuran dan mental yang percaya diri yang mana kegiatan simulasi SBMPTN ini diharapkan mampu membentuk karakter pemuda yang mandiri serta lebih berintegritas.

Integrity Try Out   bukanlah ajang pencarian keuntungan semata karena peserta dimanjakan oleh kegiatan BEAT BOX dan AKUSTIK yang menawan dari para bintang tamu dan pelayanan prima terhadap peserta seperti adanya snack, pembagian tempat duduk yang merata,Sosialisasi PANLOK UNILA,Scanner yang cepat dan juga dihadirkannya Stand Fakultas dan ikatan mahasiswa UI Lampung SAIMALA, Serta  Sistem Ticketing yang teratur . kegiatan Integrity Try Out  merupakan kegiatan Promosi UNILA, Promosi KOIN dan Kampanye  Integritas yang dikemas secara menarik dalam suatu rangkaian acara TRY OUT. (Alfajar, Anggota bidang Kaminfo KOIN )

 

 

konsep dasr dan pengertian kebijakan publik

Gambar

KONSEP DASAR DAN PENGERTIAN KEBIJAKAN PUBLIK

A.      Mengapa kebijakan publik perlu untuk kita pelajari ?

Mempelajari kebijakan publik pada dasrnya adalah berusaha menggambarkan , menganalisis dan menjelaskan secara cermat berbagai sebab dan akibat dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pemerintah. Dan dengan mempelajari kebijakan publik maka kita dapat memahami isi kebijakan publik/kebijakan pemerintah, menilai dampak dari kekuatan-kekuatan lingkungan ,menganalisa akibat dari pengaturan berbagai kelembagaan, proses-proses politik , meneliti akibat kebijakan publik terhadap sistem politik  dan evaluasi dampak kebijakan terhadap negara.

Paling tidak ada tiga alasan mengapa kita perlu mempelajari kebijakan publik :

Alasan ilmiah:

Dalam rangka memperoleh pengetahuan mandalam terhadap hakikat kebijakan publik beserta  proses-prosesnya.

Alasan profesional:

Dalam rangka untuk menrapkan pengetahuan ilmiah tentang kebijakan publik untuk menyelesaikan persoalan publik.

Alasan politik – praktis:

Agar pemerintah dapat menempuh kebijakan yang tepat guna mencapai tujuan yang tepat pula.

B.      Makna kebijakan

Istilah kebijakan sering dipertukarkandengan: Tujuan,Program,Keputusan,Undang-undang,Ketentuan-ketentuan,Usulan-usulan dan Rancangan-rancangan besar. Beberapa pengertian berikut dapat membantu anda memahami makna kebijakan yang sesungguhnya.(dalam Abdul Wahab,1997).

United Nations,1978 : Pedoman untuk bertindak ,yakni suatu deklarasi mengenai suatu dasar pedoman bertindak, arah tindakan tertentu , program mengenai aktivitas-aktivitas tertentu atau suatu rencana.

James E. Anderson,1978 : Perilaku dari sejumlah aktor (pejabat,kelompok,instansi pemerintah) atau serangkaian aktor dalam suatu bidang kegiatan tertentu

Abdul Wahab,1997 : tindakan berpola yang mengarah pada suatu tujuan tertentu dan bukan sekedar keputusan untuk melakukan sesuatu.

Langakah tindakan yang dilakukan oleh seorang atau sejumlah aktor berkenaan dengan adanya masalah atau persoalan tertentu yang dihadapi.

C.      Pengertian Kebijakan publik

Thomas R. Dye,1978 : Pilihan tindakan apapun yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah.

Carl Friedrich dalam Abdul Wahab , 1997 : kebijakan publik adalah suatu tindakan yang mengarah pada tujuan yang di usulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam lingkungan tertentu sehubungan dengan adanya hambatan-hambatan tertentu seraya mencari peluang-peluang untuk mencapai tujuan atau mewujudkan sasaran yang di inginkan.

W.I. Jenkins,1978 : serangkaian tindakan yang saling berkaitan yang diambil oleh seorang aktor atau sekelompok aktor politik berkenaan  dengan tujuan yang telah dipilih beserta cara-cara untuk mencapainya dalam suatu situasi dimana keputusan-keputusan itu pada prinsipnya berada dalm batas-batas kekuasaan dari para aktor tersebut.

Irfan Islamy,2002 : kebijakan publik adalah serangkaian tindakan yang ditetapkan dan dilaksanakan oleh pemerintah yang mempunyai tujuan atau berorientasi pada tujuan tertentu demi kepentingan seluruh masyarakat.

Abdul Wahab,19997 : kebijakan pubik ialah tindakan (politik) apapun yang diambil oleh pemerintah (pada semua level) dalam menyikapai suatu permasalahn yang terjadi dalam konteks atau lingkungan sistem politiknya.

D.      Ciri-ciri Kebijakan Publik.

Tindakan Berpola yang mengarah pada tujuan bukan tindakan yang kebetulan.

Tindakan berpola yang dilakukan oleh pejabat-pejabat publik /pemerintah bukan keputusan yang berdiri sendiri.

Tindakan nyata pemerintah dalam bidang tertentu

Tindakan yang mempunyai dampak,baik positif maupun negatif.

E.       Ruang Lingkup Studi Kebijakan Publik.

Policy Agenda (Peenyusunan Agenda Kebijakan)

Policy Formulation (Formulasi Kebijakan)

Policy Adoption (Adopsi Kebijakan)

Policy Implementation (Implementasi Kebijakan)

Policy Evaluation (Penilaian Kebijakan)

Policy Advoasy (Anjuran Kebijakan) dan Policy Recommendation (Rekomendasi Kebijakan)

F.       Elemen-elemen Kunci Kebijakan Publik

Input                 : Input seperti apa yang akan mempengaruhi dihasilkannya kebijakan publik.

Tujuan              : Apa yang ingin dicapai.

Instrumen       : Pilihan –pilihan instrumen yang akan digunakan.

Efek/Dampak : Dampak positif dan atau dampak negatif yang mungkin timbul.

Emansipasi Wanita Ala R.A Kartini Vs Emansipasi Masa Kini

SGambarebagian orang mengenal R.A Kartini hanya sebatas pahlawan nasional . Sebagian lagi mengenal kartini sebagai seorang tokoh  atau aktivis feminisme masa lampau dikarenakan tulisan-tulisannya yang dianggap menyuarakan semangat perlawanan perempuan terhadap adat jawa dan agama islam.

Raden Adjeng Kartini atau lebih tepatnya Raden Ayu Kartini , dilahirkan di Jepara, Jawa Tengah , 17 September 1904 pada usia yang terbilang muda , 25 tahun.

R.A Kartini adalah seseorang dari dari kalangan Priyayi atau bangsawan Jawa, Putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama. Ibunya M.A. Ngasirah putri dari Nyai Hj Siti Aminah  Dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Pada masa kecilnya kartini memiliki pengalaman pahit saat belajar mengaji, Ia dimarahi guru ngajinya lantaran mempertanyakan makna dari bacaannya.

Sejak saat itulah timbul penolakan kartini terhadap Al-Quran. Hal ini dapat kita baca pada awal surat menyuratnya di dalam buku “Habia Gelap Terbitlah Terang”. “Mengenai agamaku Islam , Stella, aku harus menceriktakan apa? Agama Islam agama islam melarang ummatnya mendiskusikannya dengan ummat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam . Bagaimana aku dapat mencintai agamaku,kalau aku tidak mengerti,kalau aku tidak boleh memahaminya? Al-quran terlalu suci , tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun.Disini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang di ajar membaca tapi tidak di ajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahsa nggris , aku ahrus hafal kata demi kata ,tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati,bukankah begitu stella?” [surat kartini kepda stella,6 november 1899]

Sebagai ungkapan pemberontakan , Kartini juga menuliskan sebuah tulisan dalam surat-suratnya yang menampakkan wajah barat yang ia anggap berperadaban lebih tinggi.

Agar setaraf dengan Barat , Kartini merasa perlu perlu untuk mengejar ilmu ke Barat. Barat adalah kiblat kartini setelah melepaskan diri dari kungkungan adat.

“Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, Karena Holland akan menyiapkan aku lebih baikuntuk tugas besar yang telah kupilih.” [surat kartini kepada Ny Ovink soer,1990]

“Pergilah ke Eropa . Itulah cita-citaku sampai nafasku yang terakhir. [surat kartini kepada Stella, 12 Januari 1900]

Demikianlah api pemberontakan yang menngelora di dalam jiwa seorang Kartini  pada awalnya. Ia merasa bahwa peradaban yang baik adalah peradaban dunia dan bangsa Barat. Peradaban Timur hanyalah peradaban kuno , rendah,dan sama sekali tidak bebas. Jika karena ide-ide dan gagasan itu seoarang Kartini memperoleh gelar pahlawan maka gelar tersebut tidak sepantasnya ia dapatkan.

Hingga kemudian , Pada suatu kesempatan , Ia menghadiri sebuah majelis pengajian yang dipimpin Kyai Hj M Sholeh bin Umar alias Kyai Sholeh Darat tentang tafsir surat Al-Fatihah. Kartini memperlihatkan ketertarikan dengan materi yang disampaikan. Hal ini menjadi wajar lantaran selama ini Beliau mempelajari Al-quran tanpa mengetahui maknanya.

Tradisi pada waktu itu dalam belajar Al-quran adalah dengan belajar menghafalkannya .Hingga terjadi sebuah dialog kecil antara keduanya.

“Kyai , Perkenankanlah saya menanyakan , bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu , namun menyembunyikan ilmunya?”. tanya kartini.

Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini.” Mengapa Raden ajeng bertanya demikian?

“Kyai , selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti maka dan arti surat pertama,dan induk Al-quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku.Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah,namun aku heran tak habis-habiisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran al-quran dalam bahasa Jawa.Bukankah Al-quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” tanya kartini .

Semenjak memperoleh pencerahan dari dialog tersebut, maka Kartini mulai berubah arah pemikirannya sedikit demi sedikit, pelan perlahan namun pasti. Arahan pemikirannya mulai terbaca pada tulisan – tulisan sesudahnya . Pandangannya terhadap dunia barat bergeser.

“Sudah lewat masanya,tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya .Maafkan kami , tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal – hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban.” [surat kartini kepada Ny Abendanon,27 Oktober 1902]

Penentangannya terhadap adat Jawa yang terbaca pada surat-surat sebelumnya mulai mereda setelah memperoleh banyak pencerahan. Ia pun menulis , “kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak perempuan menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya.Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam kedalam tangannya : menjadi ibu,pendidik manusia yang pertama-tama . [ surat kartini kpada prof anton dan nyonya, 4 oktober 1902]

Inilah sebuah gagasan akhir seorang Kartini,yang pada akhirnya menerima suntingan suntingan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adiningrat. yang sudah pernah memiliki tiga orang istri. Gagasannya tidaklah sama dengan golongan feminis masa kini.sayangnya ,pergolakan dan arah perubahan kartini belum terlalu tuntas.Ia meninggal september 1904 dalam usia 25 tahun.

judul buku Habis Gelap Terbitlah Terang sesungguhnya diambil dari surah al-baqarah ayat 257 “orang-orang yang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya”( minadzdzulumaati ilan nuur).

 

 

learning organitation

learning organitation

Learning Organization atau Organisasi belajar adalah suatu konsep dimana organisasi dianggap mampu untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran mandiri (self leraning) sehingga organisasi tersebut memiliki ‘kecepatan berpikir dan bertindak’ dalam merespon beragam perubahan yang muncul. Peter Senge adalah salah satu tokoh penting yang membuat teori Learning Organization (LO). Dia melontarkan gagasannya dalam buku Fifth Disipline (1990). Marquardt (1996) juga mengemukakan teorinya tentang Learning Organization. Peter Senge dan Marquardt memiliki perbedaan pendapat dalam mengemukakan teori Learning Organization. Tetapi Peter Senge Dan Marquart juga memiliki persamaan dalam teori Learning Organization. Berikut ini akan dikemukakan mengenai teori-teori kedua tokoh ini.
Peter Senge (1990: 3) learning organizations are:
…organizations where people continually expand their capacity to create the results they truly desire, where new and expansive patterns of thinking are nurtured, where collective aspiration is set free, and where people are continually learning to see the whole together.
Organisasi belajar adalah organisasi dimana orang mengembangkan kapasitas mereka secara terus-menerus untuk menciptakan hasil yang mereka inginkan, dimana pola pikir yang luas dan baru dipelihara, dimana aspirasi kolektif dipoles, dimana orang-orang belajar tanpa henti untuk melihat segala hal secara bersama-sama.
Menurut Peter Senge ada Lima disiplin (lima pilar) yang membuat suatu organisasi menjadi organisasi pembelajar.
1. Personal Mastery (Penguasaan Pribadi) – belajar untuk memperluas kapasitas personal dalam mencapai hasil kerja yang paling diinginkan, dan menciptakan lingkungan organisasi yang menumbuhkan seluruh anggotanya untuk mengembangkan dirimereka menuju pencapaian sasaran dan makna bekerja sesuai dengan harapan yang mereka pilih.
2. Mental Models (Model Mental) – proses bercermin, sinambung memperjelas, dan meningkatkan gambaran diri kita tentang dunia luar, dan melihat bagaimana mereka membentuk keputusan dan tindakan kita.
3. Shared Vision (Visi bersama) – membangun rasa komitmen dalam suatu kelompok, dengan mengembangkan gambaran bersama tentang masa depan yang akan diciptakan, prinsip dan praktek yang menuntun cara kita mencapai tujuan masa depan tersebut.
4. Team Learning (Belajar beregu) – mentransformasikan pembicaraan dan keahlian berfikir (thinking skills), sehingga suatu kelompok dapat secara sah mengembangkan otak dan kemampuan yang lebih besar dibanding ketika masing-masing anggota kelompok bekerja sendiri.
5. System Thinking (Berpikir sistem) – cara pandang, cara berbahasa untuk menggambarkan dan memahami kekuatan dan hubungan yang menentukan perilaku dari suatu system. Faktor disiplin kelima ini membantu kita untuk melihat bagaimana mengubah sistem secara lebih efektif dan untuk mengambil tindakan yang lebih pas sesuai dengan proses interaksi antara komponen suatu sistem dengan lingkungan alamnya.
Kelima dimensi dari Peter Senge tersebut perlu dipadukan secara utuh, dikembangkan dan dihayati oleh setiap anggota organisasi, dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Kelima dimensi organisasi pembelajaran ini harus hadir bersama-sama dalam sebuah organisasi untuk meningkatkan kualitas pengembangan SDM, karena mempercepat proses pembelajaran organisasi dan meningkatkan kemampuannya untuk beradaptasi pada perubahan dan mengantisipasi perubahan pada masa depan. Kelima dimensi dari Peter Senge tersebut perlu dipadukan secara utuh, dikembangkan dan dihayati oleh setiap anggota organisasi, dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Kelima dimensi organisasi pembelajaran ini harus hadir bersama-sama dalam sebuah organisasi untuk meningkatkan kualitas pengembangan SDM, karena mempercepat proses pembelajaran organisasi dan meningkatkan kemampuannya untuk beradaptasi pada perubahan dan mengantisipasi perubahan pada masa depan.
Pengertian Learning Organization (Oganisasi Belajar) menurut Marquardt (1996:19) adalah:
“ A learning organization is an organization which learns powerfully and collectively and is continually transforming itself to better collect, manage, and use knowledge for corporate success. It empowers people within and outside the company to learn as they work. Technology is utilized to optimize both learning and productivity.”
Organisasi yang mau belajar secara kuat dan kolektif serta secara terus-menerus meningkatkan dirinya untuk memperoleh, mengatur, dan menggunakan pengetahuan demi keberhasilan bersama. Organisasi belajar juga memberdayakan sumber daya manusia di dalam dan di sekitarnya, dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan proses belajar dan produktivitasnya.
Secara sistematik Marquardt (1996 : 19) memberikan penjelasan tentang pengertian Learning Organization sebagai berikut :
“A Learning Organization is an organization which learns powerfully and collectiviely and is continually transforming itself to better collect, manage and use knowledge for corporate success. It empowers people within and outside the company to learn as they work.Technology isutilized to optimized both learning and productivity. “
Suatu organisasi yang belajar secara bersungguh-sungguh dan bersama-sama,dan secara terus menerus mentransformasikan dirinya menjadi lebih baik dalam mengumpulkan, mengelola, dan menggunakan pengetahuan untuk kesuksesan organisasi. Organisasi memberdayakan manusia di dalam dan diluar organisasi dan diluar organisasi untuk belajar sebagaimana mereka bekerja.Teknologi dimanfaatkan organisasi untuk mengoptimalkan pembelajaran maupun produktivitas.
Menurut Marquardt (1996:1-2) kemampuan organisasi beradaptasi dengan lingkungannya ditentukan oleh keberadaan suprastruktur yaitu sumber daya manusia (SDM), dan infrastruktur berupa iklim organisasi. Organisasi akan beradaptasi secara cepat bila memiliki SDM yang sensitif terhadap perubahan diluar organisasi dan mampu belajar secara cepat, serta apabila
organisasi memiliki lingkungan yang kondusif untuk mendorong proses belajar.

Marquardt (1996:21-27) menyajikan komponen tersebut kedalam system dan subsistem. Sistem belajar yang dimaksud terdiri atas belajar itu sendiri, organisasi, orang, pengetahuan, dan teknologi. Masing-masing komponen dalam system tersebut memiliki subsistem. Subsistem belajar terdiri atas; tingkat yang mencakup tingkat individu, kelompok, dan organisasi, jenis belajar yang terdiri atas adaptif, antisipatori, deutero, dan tindakan, keterampilan belajar yang mencakup system berpikir, model mental, penguasaan perorangan, belajar beregu, visi bersama, dan dialog.

Marquardt mengidentifikasi ciri organisasi belajar:
1) Belajar dilakukan melalui sistem organisasi secara keseluruhan dan organisasi seakan-akan mempunyai satu otak;
2) Semua anggota organisasi menyadari betapa pentingnya organisasi belajar secara terus menerus untuk keberhasilan organisasi pada waktu sekarang dan akan datang;
3) Belajar merupakan proses yang berlangsung secara terus menerus serta dilakukan berbarengan dengan kegiatan bekerja;
4) Berfokus pada kreativitas dan generative learning;
5) Menganggap berpikir system adalah sangat penting,
6) Dapat memperoleh akses ke sumber informasi dan data untuk keperluan keberhasilan organisasi;
7) Iklim organisasi mendorong, memberikan imbalan, dan mempercepat masing-masing individu dan kelompok untuk belajar;
8) Orang saling berhubungan dalam suatu jaringan yang inovatif sebagai suatu komunitas di dalam dan di luar orgaisasi;
9) Perubahan disambut dengan baik, kejutan-kejutan dan bahkan kegagalan dianggap sebagai kesempatan belajar;
10) Mudah bergerak cepat dan fleksibel;
11) Setiap orang terdorong untuk meningkatkan mutu secara terus menerus;
12) Kegiatan didasarkan pada aspirasi, reffleksi, dan konseptualisasi;
13) Memiliki kompetensi inti (core competence) yang dikembangkan dengan baik sebagai acuan untuk pelayanan dan produksi; dan
14) Memiliki kemampu untuk melakukan adaptasi, pembaharuan, dan revitalisasi sebagai jawaban atas lingkungan yang berubah.
Persamaan dan Perbedaan
Perbedaan kedua teori dari Peter Senge dan Marquardt hanya terletak pada keterampilan terakhir, yakni dialog. Dalam teori Peter Senge tidak memasukkan dialog sebagai salah satu disiplin dalam organisasi belajar sebagaimana yang Marquardt lakukan. Hal ini menurut Peter Senge karena unsur dialog sudah terdapat pada kelima disiplin tersebut sehingga walaupun dialog tidak diletakkan kedalam salah satu disiplin belajar tetapi sudah mewarnai setiap unsur dalam disiplin belajar.
Disisi lain, meskipun Learning Organization dirumuskan secara berbeda oleh Peter Senge dan Marquardt, kedua pengertian tersebut mempunyai asumsi yang sama. Bahwa setiap individu memiliki kemampuan atau potensi yang tersimpan pada dirinya yang dapat dan perlu dikembangkan untuk mencapai tujuan organisasi. Kedua-duanya juga mengandung makna bahwa semua orang, mulai dari tingkat individu, kelompok hingga organisasi dapat dan perlu melakukan kegiatan belajar secara bebas dan terus menerus untuk meningkatkan kinerja organisasi.

Daftar Pustaka
Marquardt, M.J. (2002). Building the learning organization. New York : McGraw-Hill
Senge, Peter M.(1990) The fifth discipline: The art and practice of the learning organization. New York: Doubleday